G20 Summit

G20 Summit 2025 di Rio de Janeiro: Ekonomi Hijau, Geopolitik, dan Peran Indonesia

Politik

G20 Summit 2025: Forum Paling Strategis Dunia

G20 Summit 2025 yang digelar di Rio de Janeiro, Brasil, menjadi ajang pertemuan paling penting tahun ini. Dengan tema “Sustainable Growth in a Divided World”, forum ini mencoba menjawab bagaimana dunia bisa tetap tumbuh secara berkelanjutan di tengah fragmentasi politik, perang, dan krisis iklim.

Rio dipilih sebagai tuan rumah bukan hanya karena Brasil adalah kekuatan ekonomi terbesar di Amerika Latin, tetapi juga karena negara ini ingin menegaskan perannya dalam isu pembangunan berkelanjutan, bioenergi, dan multipolaritas global.

Sebagai forum yang mewakili 85% PDB dunia dan 75% perdagangan internasional, G20 punya posisi strategis dalam menentukan arah ekonomi global.


Geopolitik Global: AS, Tiongkok, dan Dunia Multipolar

Di Rio, ketegangan geopolitik menjadi isu utama. Dunia kini benar-benar berada di era multipolar, dengan kekuatan terbagi antara:

  • Amerika Serikat – tetap menjadi kekuatan militer dan finansial terbesar, fokus pada keamanan digital, AI, dan pertahanan Indo-Pasifik.

  • Tiongkok – terus menguat dengan Belt and Road Initiative, investasi infrastruktur di Asia-Afrika, serta ekspansi teknologi 5G dan EV.

  • Eropa – berjuang mempertahankan kesatuan di tengah krisis Ukraina dan transisi energi hijau.

  • India – muncul sebagai kekuatan baru dengan pertumbuhan ekonomi tercepat dan populasi terbesar di dunia.

  • Brasil – memanfaatkan G20 untuk memperkuat posisi Amerika Latin dalam diplomasi global.

Pertemuan di Rio berlangsung di bawah bayang-bayang perang Ukraina yang masih berlanjut, konflik di Timur Tengah, serta ancaman keamanan global di Laut Cina Selatan.


Ekonomi Hijau: Agenda Terbesar G20 2025

Topik paling menonjol di Rio adalah transisi energi dan ekonomi hijau. Dunia sadar bahwa tanpa komitmen serius, krisis iklim akan menghancurkan fondasi ekonomi global.

Poin utama yang dibahas:

  1. Pendanaan Iklim Global
    Negara maju ditekan untuk menepati janji US$100 miliar per tahun guna mendukung transisi energi negara berkembang.

  2. Green Industry Revolution
    Dorongan industrialisasi ramah lingkungan, seperti mobil listrik, baterai, semikonduktor hijau, dan bioenergi.

  3. Carbon Market Transparency
    Diskusi tentang mekanisme perdagangan karbon internasional yang adil dan transparan.

  4. Biodiversity & Amazon
    Sebagai tuan rumah, Brasil mendorong perlindungan hutan Amazon sebagai paru-paru dunia, sekaligus sumber energi biofuel.

G20 2025 mencoba menyeimbangkan dua kebutuhan: menjaga pertumbuhan ekonomi sambil memastikan bumi tetap layak huni.


Peran Indonesia: Jembatan Utara–Selatan

Indonesia kembali tampil sebagai pemain kunci di G20. Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa Indonesia siap menjadi jembatan antara negara maju dan berkembang.

Fokus diplomasi Indonesia di Rio meliputi:

  • Transisi Energi – memperkuat kerja sama baterai dan EV dengan Jepang, Korea, dan Uni Eropa.

  • Ekonomi Digital ASEAN – mendorong regulasi data, e-commerce, dan AI antarnegara ASEAN.

  • Ketahanan Pangan Global – inisiatif kerja sama teknologi pertanian untuk menghadapi ancaman krisis pangan.

  • Diplomasi Iklim – menekankan pentingnya pendanaan iklim yang adil agar negara berkembang tidak tertinggal.

Indonesia juga menegaskan pentingnya inklusivitas dalam G20: forum ini tidak boleh hanya jadi ajang kepentingan negara besar, tetapi harus memperjuangkan kepentingan Global South.


Tantangan dan Kritik

Meski menghasilkan deklarasi, G20 2025 juga menuai kritik dari berbagai pihak:

  1. Greenwashing – banyak negara dianggap hanya memberi janji kosong tanpa implementasi nyata.

  2. Ketimpangan Utara–Selatan – negara maju diduga lebih fokus pada kepentingannya sendiri.

  3. Kurangnya Mekanisme Sanksi – G20 tidak punya kekuatan memaksa jika ada negara yang melanggar komitmen.

  4. Krisis Kepercayaan – sebagian masyarakat global menganggap G20 hanya panggung elit tanpa dampak langsung bagi rakyat kecil.

Kritik ini menunjukkan bahwa G20 masih perlu reformasi agar bisa lebih efektif dalam menangani isu global.


G20, BRICS, dan Masa Depan Tata Dunia

Salah satu isu besar yang membayangi G20 adalah kebangkitan BRICS+ (Brasil, Rusia, India, Tiongkok, Afrika Selatan, plus beberapa anggota baru seperti Arab Saudi, UEA, dan Mesir).

BRICS kini mulai dianggap sebagai saingan G20, khususnya karena menawarkan forum alternatif yang lebih berpihak pada negara berkembang.

Hal ini menimbulkan pertanyaan: apakah G20 bisa mempertahankan relevansinya, atau justru akan tergeser oleh forum multipolar lain?

Banyak analis menilai, G20 harus beradaptasi dengan realitas multipolar. Jika tidak, forum ini bisa kehilangan pengaruh dalam satu dekade ke depan.


Kesimpulan: G20 Summit 2025 dan Arah Dunia Baru

G20 Summit 2025 di Rio de Janeiro memperlihatkan dinamika dunia yang semakin kompleks. Dengan tema ekonomi hijau dan multipolaritas, forum ini menjadi simbol upaya mencari titik temu di tengah perpecahan global.

Bagi Indonesia, G20 adalah panggung penting untuk memperkuat diplomasi, memperjuangkan transisi energi adil, serta membangun citra sebagai jembatan global.

Namun, pertanyaan besar tetap terbuka: apakah G20 bisa benar-benar menjadi motor solusi global, atau hanya sekadar forum simbolik tanpa implementasi nyata?

Satu hal jelas: hasil G20 2025 akan sangat menentukan arah ekonomi hijau, geopolitik, dan tata dunia multipolar di dekade mendatang.


Referensi